Rabu, 18 November 2015

Surat Cinta #3

Ibu...,

Hari ini, untuk pertama kalinya hujan turun di tempatku berada. Apakah disana juga hujan bu?

Saat menuliskan surat ini, aku sedang berada di dekat jendela. Menatap ribuan tetes air hujan yang jatuh ke bumi. Seperti kebiasaan yang pernah kita lakukan dulu. Saat hujan sore menjelang, ibu sering mengajakku menikmati tetesan-tetesan air yang jatuh dari langit itu melalui jendela. Meski kadang embun kerap menghalangi pandangan kita namun ibu selalu saja menatap dari balik jendela. Ibu selalu saja menyelipkan cerita-cerita atau pesan-pesan yang bahkan saat ini masih ku ingat. Meski ceritamu sangatlah sederhana namun dibalik itu semua selalu tersirat pesan yang amat mendalam bagiku.

Suatu hari, saat aku masih menjadi anak kecil ibu yang nakal, ibu pernah bercerita bagaimana terjadinya hujan.

"Nak, kamu mau tahu bagaimana proses terjadinya hujan?" Tanyamu.

Aku yang sebenarnya sudah tahu bagaimana proses hujan itu terjadi sebab pernah diajarkan di sekolah tetap mengangguk. Karena aku tahu ibu tidak sekedar menjelaskan bagaimana proses terjadinya hujan seperti yang diajarkan di sekolah. Bagiku, selalu ada yang istimewa dari setiap ceritamu.

Melihatku mengangguk, engkau pun tersenyum. Engkau menarik perlahan kepalaku agar rebah di bahumu.

Saat itu, engkau mulai bercerita bagaimana proses hujan itu bisa terjadi. Tidak jauh berbeda dari apa yang diajarkan di sekolah. Engkau menjelaskannya sampai usai. Tapi, ceritamu tak habis sampai disana.

"Nak, engkau harus banyak belajar dari hujan!" Katamu dengan lembut.

Aku yang masih terlalu polos hanya mendongakkan kepala menatapmu dengan kebingungan.

"Engkau tahu nak, bahwa hujan itu adalah air yang juga berasal dari bumi. Entah itu dari laut, danau, sungai dan sumber air lainnya yang mengalami penguapan akibat sinar matahari. Lalu air itu akan bergumul di langit bersama awan sebelum akhirnya jatuh kembali ke bumi...." Engkau menghentikan sejenak ceritamu dan membiarkan aku meresapi setiap penjelasanmu.

"Saat ini, engkau seumpama air yang berada di bumi. Kelak kamu akan mengalami proses sebagaimana air menguap oleh cahaya matahari. Dan proses itu tidak akan mudah kamu jalani. Air akan menguap jika ia mengalami pemanasan oleh cahaya matahari. Dan kamu, kamu harus mengalami proses yang juga tidak mudah. Perjalananmu tidak akan mudah dalam mengarungi kehidupan. Namun, jika kamu bisa melewati semua prosesnya kamu akan mampu berada di atas sebagaimana air yang tadinya berada di bumi telah berada di langit karena proses. Tapi, saat kamu berada di atas jangan pernah lupa akan asalmu. Jangan pernah lupa darimana kamu berasal. Karena, suatu saat nanti kamu akan kembali kemana kamu berasal. Entah itu dengan terpaksa atau dengan kesadaran sendiri. Suatu saat nanti, kamu akan pergi jauh dari tempat asalmu. Merantau. Entah itu untuk menuntut ilmu, bekerja, atau keperluan lainnya. Itu akan menjadi bagian dari proses hidupmu. Disana kamu akan bisa melihat dunia lebih luas lagi sebagaimana air yang berada di langit bisa menatap bumi lebih luas lagi. Namun, kamu jangan pernah lupa pada tempat dimana saat ini berada. Sebab, disinilah asalmu jadi jangan pernah sekalipun kamu lupa pada tempat asalmu. Jika pun suatu saat nanti kamu harus tinggal di tempat yang baru namun bukan berarti kamu harus melupakan tempat asalmu. Tengoklah tempat asalmu, tengoklah ibumu yang mungkin saat itu telah renta. Sebagaimana bumi yang selalu merindukan air hujan, ibu pun akan selalu merindukan kehadiranmu... ." Saat itu engaku mulai terisak. Satu dua tetes air matamu mulai jatuh.

Aku yang masih terlalu belia belum mampu memahami setiap ceritamu. Namun, engaku menatapmu dengan lembut dan berusaha tersenyum meski dipaksakan. Aku masih dalam kebingungan.

"Saat ini, kamu tidak harus mengerti dengan apa yang ibu ceritakan. Cukup dengan mengingatnya saja. Kelak, kamu akan mengerti sendiri makna dari cerita ibu." Tambahmu dengan senyum yang engkau paksakan.

Bu,

Hari ini, saat aku berada jauh darimu. Untuk mengalami sesuatu yang engkau sebut "proses", aku mulai memahami apa yang pernah kau ceritakan dulu. Aku mulai bisa meresapi makna di balik cerita-ceritamu. Mungkinkah, saat ini engkau sedang merindukanku sebagaimana bumi merindukan hujan? Seperti katamu.

Ah, itu adalah pertanyaan yang konyol bu. Bukankah saat engkau melepaskanku pergi juga aku melihat hujan yang jatuh di pipimu. Itu adalah air mata kesedihan, bagaimana engkau harus berberat hati melepas anakmu yang manja dan nakal ini pergi untuk menjalani proses kehidupan. Melihat dunia lebih luas lagi. Saat ini, mungkin rindumu telah menggunung terhadap anakmu yang tak tahu diri ini. Kerinduanku pasti akan kalah oleh kerinduanmu padaku.

Bu,

Hujan ternyata tidak sekedar menumbuhkan tanaman-tanaman atau membuat kuncup-kuncup bunga bermekaran. Lebih dari itu, hujan juga telah menumbuhkan kerinduan padamu.

Aku rindu akan masa-masa kecilku bersamamu. Aku yang nakal selalu saja menyusahkanmu.

Aku masih ingat, bagaimana sewaktu kecil aku sering bermain hujan bersama kawan-kawanku sampai aku jatuh sakit. Saat itu, ayah akan memarahiku --walau aku tahu dia tidak benar-benar marah. Tapi, engkau dengan kelembutan hatimu masih bisa tersenyum. Meski gurat ke khawatiranmu tidak bisa disembunyikan. Itu hanya sebagian caramu agar aku tidak terlalu merasa bersalah. Engkau akan memberikan perhatian padaku dengan sepenuh hatimu. Nalurimu sebagai ibu yang merasa khawatir akan kesehatan anaknya akan melakukan apapun agar aku cepat sembuh. Engkau akan setia mendampingiku, menuruti kemauanku, bahkan engkau rela terjaga karena sakitku. Padahal, sakitku justru karena kenakalanku yang tidak menuruti perintahmu untuk tidak bermain hujan.

Setelah beberapa hari aku sembuh dari sakitku akibat beemain hujan, aku sudah merajuk lagi padamu untuk mengijinkanku bermain hujan bersama kawan-kawanku. Bahkan, aku sampai menangis hanya agar engkau mengijinkanku bermain hujan. Sampai, akhirnya engkau pun mengalah untuk mengijinkanku bermain hujan. Senyum mengembang dari bibirmu. Namun kekhawatiran muncul di matamu.

"Jangan lama-lama." Itu pesanmu sebelum aku berlari ke tanah lapang menemui kawan-kawanku.

Baru sebentar saja aku bermain hujan namun engkau sudah memanggilku untuk masuk ke rumah. Aku berusaha menurutimu meski dengan jengkel.

Lalu, beberapa saat kemudian, ayah pulang ke rumah setelah seharian bekerja. Dan aku baru tahu alasanmu memanggilku masuk ke rumah. Engkau tidak ingin melihat anakmu yang nakal ini ketahuan bermain hujan oleh ayah setelah beberapa hari yang lalu sakit akibat bermain hujan. Engkau takut aku di marahi ayah. Ah, saat itu aku masih terlalu polos untuk memahami rasa sayangmu terhadapku. Larangan-laranganmu selalu membuatku jengkel, padahal dibalik itu semua ada rasa sayangmu yang amat besar.

Esoknya lagi, saat hujan tiba aku pun merajuk untuk mendapat izin bermain hujan. Namun, engkau menahanku dan mengajakku kembali bercerita. Bermain hujan dan mendengarkan ceritamu adalah dua pilihan yang membingungkan. Walaupun akhirnya aku memilih mendengarkan ceritamu.

Seperti biasa, kita akan duduk mengahadap jendela yang sudah tertutup embun.

"Ibu tidak melarang kamu bermain hujan. Karena ibu tahu itu adalah cara anak-anak seusiamu mensyukuri turunnya hujan dan ibu pun dulu pernah melakukan itu. Hanya saja, semua ada batasnya." Katamu membuka cerita.

"Satu hal yang harus kamu tahu nak. Segala sesuatu yang di lakukan secara berlebihan tidaklah baik. Kamu harus tahu batasan dari setiap perbuatan yang kamu lakukan. Kamu juga harus tahu dengan konsekuensi atau lebih mudahnya akibat dari perbuatanmu. Kamu masih ingat saat kamu sakit akibat dari bermain hujan?" Tanyamu dengan lembut menatapaku.

Aku mengangguk dengan pelan.

"Lalu, kenapa saat kemarin kamu bermain hujan tidak jatuh sakit?" Tanyamu lagi.

Aku hanya bisa menggeleng.

"Saat beberapa hari yang lalu kamu terjatuh sakit akibat bermain hujan, itu karena kamu bermain hujan tanpa ada batasnya. Kamu melakukannya dengan berlebihan. Akibatnya kamu jatuh sakit. Sedangkan kemarin, kamu membatasi bermain hujan dan kamu tidak jatuh sakit. Saat kamu hujan-hujanan risiko sakit memang tidak bisa dihindari, namun saat kamu membatasinya itu juga telah mengurangi risiko itu." Engkau menghentikan dahulu perkataanmu. Seperti biasa, membiarkanku meresapi setiap kata yang engkau ucapkan.

"Kelak, saat kamu sudah beranjak dewasa, dalam melakukan hal apapun kamu tidak boleh melakukannya secara berlebihan. Karena memang itu tidak baik. Lakukan saja sebagaimana mestinya. Karena segala sesuatu pasti ada batasannya. Sekali lagi, kamu tidak harus mengerti kata-kata ibu cukup saat ini kamu mengingatnya saja. Sebab, ada waktunya kamu akan mengerti sendiri dengan apa yang ibu katakan."

"Prihal, mensyukuri hujan. Kamu juga harus belajar mensyukuri dengan cara yang lain selain bermain di tanah lapang saat hujan yang sebenarnya akan membahayakanmu sendiri. Kelak, ibu akan mengajarimu mensyukuri hujan dengan cara yang lebih indah." Engkau menatapku dengan senyuman dan berhasil membuatku penasaran.

"Tapi, kawan-kawanku juga bermain hujan dan mereka tidak pernah di larang apalagi dimarahi seperti ayah memarahiku." Tukasku.

"Kamu tidak harus sama dengan orang lain nak. Jika kamu mampu lebih baik kenapa harus sama dengan mereka. Kamu juga harus tahu satu hal nak. Jika ada orang yang melarangmu, memberimu nasihat itu bukan berarti mereka membencimu justru karena mereka peduli padamu. Kelak, kamu akan merasakannya sendiri saat kamu beranjak dewasa. Peringatan dan nasihat itu akan kamu butuhkan untuk kebaikanmu. Justru, kamu harus bersedih saat sudah tidak ada lahi orang yang melarangmu, memperingatimu, menasihatimu karena itu artinya sudah tidak ada lagi yang peduli terhadapmu. Dan satu hal lagi, tidak semua orang yang marah adalah orang yang membencimu. Justru, bisa saja orang yang marah padamu adalah orang yang paling sayang padamu. Kemarahan mereka adalah puncak dari kekhawatiran mereka karena takut terjadi apa-apa pada orang tersayangnya. Itu juga lah yang di lakukan ayahmu. Kamu jangan pernah menilai sesuatu hanya karena sekilasan mata. Tapi lihatlah sorot matanya, kelak kamu akan mengetahui apa yang ada dalam hatiny."

Aku mengangguk dan ingat akan pesanmu beberapa saat yang lalu saat aku berbohong padamu. Dan engkau dengan lembut mengatakan :

Mata tidak akan pernah bisa berbohong. Jika ingin melihat kejujuran hati seseorang maka lihatlah matanya. Begitu katamu.

"Engkau sudah mengerti nak?" Tanyamu sambil mengelus kepalaku dengan lembut.

Aku mengangguk dan berusaha tersenyum engkau pun membalas senyumku.

Cerita sore itu pun berakhir saat dari kejauhan terlihat ayah sudah menuju ke rumah.

Bu,

Ah, saat ini rasanya rindu akan masa-masa itu. Menjadi anakmu yang nakal yang selalu mendengarkan ceritamu saat hujan tiba.

Satu hal lagi, yang baru aku ketahui prihal kebiasaanmu menatap jendela saat hujan turun. Ternyata engkau tidak sekedar menatap jendela. Lebih dari itu, engkau sedang menunggu ayah pulang dengan hati penuh ke khawatiran sebab saat hujan lebat ayah belum pulang. Kesimpulan ini aku ambil karena engkau akan berhenti menatap jendela saat engkau sudah melihat sosok ayah di kejauhan sedang menuju ke rumah. Rasa khawatirmu terhadap ayah sangat besar seperti rasa khawatirmu padaku darah dagingmu. Meski tidak pernah terucap namun aku selalu suka dengan caramu mencintai kami.

Kini, aku sudah faham terhadap janjimu untuk mengajariku cara mensyukuri hujan. Dengan menikmati setiap tetes yang jatuh serta menantikan seseorang yang kita cintai. Seraya tak hentinya hati kita merapalkan doa-doa memuji sang pemilik cinta sejati.

Dan saat ini, aku menatap jendela ini dengan harapan melihat wajahmu yang sedang tersenyum.

Ah, semoga saja kelak aku akan mendapatkan pendamping sepertimu. Yang dengan diam selalu menyanyangi anak-anak dan menyayangiku. Dia yang selalu setia menungguiku dari balik jendela saat aku belum pulang ke rumah. Dia yang memiliki kasih sayang sepertimu bu.

Semoga, engkau selalu berada dalam kasih sayangNya. Sebagaimana engkau yang selalu menyayangiku.

***

Minggu, 15 November 2015

Hal-hal Yang Tak Perlu Diperdebatkan

"Apakah hubungan kita akan berjalan baik dengan perbedaan yang kita miliki?" Tanyamu suatu hari saat kita berada di taman dan kamu menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku tidak segera menjawab apa yang kamu tanyakan. Bukan karena aku tak bisa menjawab. Tapi, aku hanya tak ingin terburu-buru menjawab saja.

Aku tetap membiarkanmu menyandarkan kepalamu di bahuku. Memandangi orang yang berlalulalang di taman. Dan sampai pertanyaanmu terlupakan. Aku suka kamu yang tak pernah memaksakanku untuk menjawab semua pertanyaan.

Tapi, hari ini. Aku akan menjawab pertanyaan yang yang belum sempat terjawab itu.

Dengarlah,

Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Tidak semua perbedaan harus diperselisihkan. Tidak semua perbedaan harus dibicarakan.

Kita dilahirkan kedunia ini dengan berbagai macam perbedaan. Tentu itu tak bisa kita pungkiri. Semua orang memiliki prinsip hidup masing-masing. Aku tidak akan mempermasalahkan prinsipmu yang berlainan denganku. Sebab, semua orang memiliki prinsip masing-masing. Kalaupun diantara kita ada persamaan mungkin hanya persamaan rasa. Kita memiliki rasa yang sama. Itu saja.

Lalu, bagaimana menyikapi perbedaan itu?

Begini, saat kita memutuskan untuk hidup bersama dengan perbedaan dan prinsip masing-masing, maka saat itu juga prinsip dan perbedaan itu telah hilang.

Seperti, aku, kamu yang telah menjelma kita--cinta. Maka perbedaan prinsip yang kita miliki telah melebur dengan sendirinya.
Bukankah kita sudah berikrar tuk saling setia?
Itu juga prinsip.
Saat kita menjalin hidup berdua. Maka saat itu pula lah kita mulai menentukan prinsip kita berdua dan melupakan prinsip masing-masing.

Maka, untuk pertama-tama marilah kita menyatukan hati kita dahulu sebelum membicarakan prinsip hidup kita. Jika kita sudah saling setia, perbedaan itu akan hilang dengan sendirinya. Tak perlu kau risaukan itu!

Mari kita membuat prinsip hidup kita. Bukan lagi aku atau kamu.

***

Senin, 02 November 2015

Tenang saja!

Jembatan ternyata bukan hanya berfungsi menghubungkan dua tempat yang berbeda, menyatukan dua tebing yang berjauhan. Lebih dari itu, jembatan juga telah menghubungkan dua hati yang saling mengagumi. Khususnya bagi kita. Setelah kita saling mengutarakan isi hati masing-masing di atas jembatan, maka jembatanpun kini menjadi tempat favorit kita berdua. Kita akan senang berlama-lama menyandar di besi tepian jembatan.

Kita akan saling berpegangan tangan sambil menatap air sungai yang tak begitu deras. Tak banyak yang kita bicarakan. Sebab kita memilih diam dan membiarkan hati kita yang saling merasa.

Aku tidak ingin jauh darimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu.Katamu suatu hari di atas jembatan.

Aku tahu kata yang kamu ucapkan benar-benar dari hatimu. Aku bisa merasakannya melalui genggaman tanganmu yang semakin erat.

Aku akan mendiamkanmu sesaat. Membiarkan ketakutanmu hanyut terbawa air sungai.

Aku tidak berjanji. Tapi aku akan berusaha berada disampingmu.Itu saja yang keluar dari bibirku.

Lalu kau akan menatapku. Mencari kesungguhan disudut mataku. Kamu akan tersenyum setelah aku menganggukkan kepalaku.

Sebenarnya kita tak harus khawatir dengan masa depan hubungan kita. Semuanya sudah ada yang mengatur. Kita hanya bisa menjalaninya dengan kesungguhan hati. Tanpa pernah ada niatan untuk saling menyakiti. Itu saja yang bisa kita lakukan.

Barangkali memang benar apa yang di katakan sahabatku :

Cinta itu hanyalah tentang ketepatan dan ketetapan.

Sekuat apapun kita mempertahankan hubungan jika memang dia bukan orang yang tepat tetap saja kita tidak akan mampu. Dan sekuat apapun kita mempertahankan agar hubungan kita tetap terjalin kalau memang ketetapanNya berkata lain tentu kita tidak punya kuasa untuk mempertahankan.

Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan dalam sebuah hubungan. Jalani saja dengan kesungguhan hati. Ikuti kemana ia akan berlabuh.

Tenang saja! Kalau memang engkau adalah orang yang tepat sesuai ketetapanNya maka tidak ada yang akan mampu memisahkan kita. Percayalah!!!

****

Surat Cinta #2

Ibu...,

Hari ini aku ingin sekali berbagi cerita denganmu.

Seperti dulu saat aku masih kanak-kanak. Menyandarkan kepalaku di pangkuanmu sambil melemaskan badanku setelah seharian bermain bersama kawan-kawanku. Dan engkau akan dengan senang hati mendengarkan cerita-ceritaku. Dari mulai cerita kenakalanku menjahili kawan-kawan, seharian bermain petak umpet, bermain kartu, bermain kelereng, bercerita tentang kecurangan teman-teman atau bahkan aku sampai membuka mulut bahwa tadi siang aku mencuri mangga milik tetangga. Tapi engkau tidak buru-buru marah meski aku dengan terang-terangan mengaku telah mencuri mangga tetangga. Engkau memilih terus mendengarkan celotehku yang tak kunjung henti seperti gerbong kereta api. Ah, padahal waktu itu aku belum tahu kereta api itu panjangnya seperti apa. Yang aku tahu saat itu bahwa kereta api itu panjang. Dan engkau, sekali lagi engkau akan terus setia mendengarkan ceritaku meski beberapa cerita ada yang aku ulang-ulang tapi engkau tidak pernah menyanggah apalagi protes. Engkau memilih terus mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali engkau tersenyum saat aku bercerita tentang kenakalanku, atau tentang cerita lucu lainnya. Dan keningmu sesekali berkerut saat aku bercerita tentang kenakalan kawan-kawanku, atau saat aku bercerita bahwa tadi aku hampir celaka. Ah, waktu itu aku tidak tahu bahwa itu adalah isyarat kekhawatiranmu. Yang aku tahu saat itu engkau sedang mendengarkan ceiritaku yang seru. Ada hal lain yang aku suka dan betah berlama-lama bercerita denganmu. Aku suka saat engkau terus mengelus-elus kepalaku sesekali menyisir rambutku dengan tanganmu. Itu adalah relaksasi yang engkau berikan setelah seharian aku lelah bermain. Lalu, saat aku berhenti bercerita baru engkau akan memberikan tanggapan dan masukan terhadap ceritaku.

"Anak ibu, ceritanya sudah seperti kereta. Panjaaaaaang sekali. Sampai-sampai ibu tidak bisa menghentikannya." Itu adalah tanggapan yang engkau ucapkan pertama. Tentu dengan senyum yang khas darimu. Senyum yang memberikan ketenangan bagiku.

Aku pun hanya membalasnya dengan senyum. Seperti kuda. Memamerkan gigi-gigi kecilku yang tidak rapi karena ada ompongnya.

"Ibu senang mendengar ceritamu. Sepertinya kamu senang dengan kawan-kawanmu. Dan memang seharusnya begitu. Sepertinya kawan-kawanmu baik." Tambahmu. Tanpa pernah melepaskan senyum di bibirmu.

"Tapi, tadi ada kawanku yang nakal bu. Jadi, tidak semuanya baik. Aku tidak mau main lagi dengan teman yang jahat." Aku menyanggah pujianmu terhadap kawan-kawanku. Tentu aku langsung memasang wajah tidak suka.

Engkau akan tersenyum lagi melihatku memasang wajah masam. Sebelum engkau melanjutkan perkataanmu.

"Nak, dalam persahabatan itu wajar jika ada perselisihan. Tapi, jika benar mereka sahabat maka mereka tidak akan pernah benar-benar membuatmu kecewa apalagi sakit hati. Kenakalan dan kejahilan mereka hanyalah salah satu cara agar persahabatan kalian tidak membosankan. Ibu yakin, aslinya semua sahabatmu itu baik. Dalam bersahabat itu tidak perlu pilih-pilih. Selagi mereka masih berbuat sesuatu dalam kawajaran maka tidak ada alasan untuk tidak berteman dengan mereka."

Setelah perkataan itu biasanya engkau akan mengelus dulu kepalaku--rambutku. Aku tahu itu agar aku merasa tenang lagi sebelum menerima kata-kata darimu selanjutnya.

"Ibu tidak melarang kamu bermain dengan siapapun dan dimanapun. Hanya saja, dalam bermain bukan berarti semua boleh dilakukan. Seperti apa yang kamu ceritakan bahwa kamu tadi mencuri mangga tetangga. Itu adalah salah satu hal yang tidak boleh dilakukan. Meski itu dilakukan dengan sahabatmu, dengan riang, namun itu tidak bisa disebut bermain. Itu namanya mencuri. Dan dalam hal apapun tidak dibenarkan melakukan hal seperti itu." Katamu, tenang sekali seperti tidak ada kemarahan. Padahal aku tahu dalam hatimu mungkin ada sedikit tidak suka dan marah. Tapi engkau selalu punya cara mengendalikan marahmu. Senyum.

"Tapi bu, yang punyanya juga tidak marah. Saat ketahuan." Aku selalu saja melakukan pembelaan. Itu adalah kebiasaan yang bahkan terbawa sampai kini aku telah beranjak dewasa.

Lagi-lagi engkau akan tersenyum sebelum melanjutkan perkataanmu.

"Betul nak. Mungkin sekali, dua kali yang punyanya tidak akan marah karena kalian masih kanak-kanak. Tapi, yang ibu khawatirkan kebiasaan mencuri itu akan terbawa sampai kamu besar nanti. Meski tidak ada yang memarahi namun bukan berarti kita bebas melakukannya. Sekecil apapun barang orang yang kamu ambil tanpa permisi itu tetap saja mencuri. Dan itu bukan hal yang baik untuk dibiasakan. Kamu mengerti nak?" Saat pertanyaan itu terucap engkau akan menghentikan ritual mengusap kepalaku terlebih dahulu dan menatap wajahku dengan penuh keteduhan menunggu jawabanku.

Aku menangguk. Engkau akan tersenyum dan aku pun tersenyum.

"Ya sudah, sekarang mandi dulu!" Cerita sore hari pun berhenti.

Aku selalu suka dengan caramu menasihatiku. Tidak pernah dengan pemaksaan apalagi kekerasan.

Sebab, aku pernah mendengar sahabatku yang dibentak oleh ibunya karena ketahuan berbuat nakal. Tapi engkau, engkau mempunyai cara sendiri untuk menyampaikan kebaikan padaku.

Bu, hari ini aku ingin lagi bercerita seperti dulu. Saat aku kanak-kanak.

Tapi kini situasinya telah berbeda. Aku telah berada di tanah orang untuk berjuang menggapai masa depanku. Aku tidak bisa lagi membaringkan kepalaku dipangkuanmu. Aku tidka bisa lagi meraskan usapan tanganmu di kepalaku.

Padahal, hari ini aku ingin sekali bercerita. Tentang hari-hariku disini.

Bu, ternyata menjadi orang dewasa itu tidak mudah ya?

Ternyata masalahnya bukan lagi tentang kejahilan teman-teman atau kecurangan saat bermain kartu.

Bu, disini di tanah orang ternyata tidak mudah mencari teman yang benar-benar bisa di jadikan sahabat. Awalnya aku kira semua orang sama-- tidak pernah berniat mencelakakan. Seperti katamu "Jangan pernah memilih-milih teman. Selagi kita baik pasti orang akan baik." Ternyata kata itu tidak berlaku disini bu.

Aku pernah mendengar temanku yang ditipu temannya sendiri. Bahkan, yang lebih mengerikan ada teman yang membunuh temannya sendiri. Mengerikan kan bu? Aku tahu ibu juga sudah tahu karena sering mendengar berita di televisi.

Tapi, tenang saja bu. Aku bercerita bukan untuk membuat ibu khawatir. Karena memang aku tidak ingin membuatmu khawatir. Aku bersyukur masih menemukan teman-teman yang mau menjadi sahabatku. Teman-teman dekatku baik-baik bu. Hari ini saja aku baru merayakan ulang tahun sahabatku dengan melemparkan telur dan menyiramnya dengan air. Seru kan bu? Ternyata benar bu, kejahilan tak melulu karena kebencian. Tapi kadang karena telalu senang. Ibu tidak usah khawatir lagi sekarang. Meski beberapa hari yang lalu aku sempat bercerita bahwa aku ditipu oleh temanku. Tapi, itu cukup menjadi pelajaran bagiku bu. Bahwa aku sedang berada di kota. Dimana kadang nyawa lebih berharga daripada sebungkus nasi kering.

Kalau kemarin aku bercerita tentang kesialanku yang mungkin membuat kening ibu berkerut. Aku harap cerita hari ini bisa membuat ibu kembali tersenyum.

Bu, kalau kemarin aku bercerita di ujung telpon bahwa aku merasa di curangi oleh teman sendiri. Maka hari ini aku ingin mengabarkan pada ibu bahwa ada temanku yang dengan senang hati membantuku. Jadi ibu tidak usah khawatir lagi!

Kalau kemarin aku membuat kening ibu berkerut, maka hari ini aku berharap ibu akan tersenyum lagi. Ciiiiiss...hehe

Tapi, sekarang aku faham bu bahwa ternyata di usia yang semakin dewasa kecurangan itu bukan lagi kecurangan dalam permainan kartu. Karena ternyata dalam kehidupan dewasa kecurangannya lebih mengerikan.

Tadi saja aku mendengar sahabatku yang tidak lulus test kerja hanya karena saingannya menggunakan orang dalam untuk membantunya agar lulus test.

Atau tentang sahabatku yang satu lagi yang pernah melihat transaksi amplop di instansi pemerintah hanya agar diberi kelancaran dalam urusannya.

Ternyata kecurangan di usia dewasa lebih mengerikan ya bu?

Tapi tenang saja bu. Seperti kata ibu "Dalam permainan sekalipun ada hal yang tak boleh di lakukan terutama jika itu melanggar norma dan hukum. Terutama jika hal itu yang merugikan orang lain." Aku akan memegang nasihat itu bu. Karena kini aku mulai menyadari kebenaran nasihat-nasihatmu.

Bu, sebenarnya hari ini aku ingin bercerita banyak. Tapi aku tidak ingin disebut seperti kereta lagi...hehehe

Besok, aku ingin bercerita lebih banyak dari hari ini. Semoga ibu tidak pernah bosan mendengar ceritaku. Seperti dulu ibu tidak pernah bosan mendengar ceritaku saat masih kanak-kanak.

Surat Cinta #1

Ibu,

Entah kenapa tiba-tiba saja hari ini aku ingin menuliskan surat ini untukmu.

Oh iya, bagaimana kabarmu disana ibu? Aku anakmu disini masih dengan keadaan seperti kemarin. Masih baik-baik saja, Alhamdulillah. Aku berharap keadaanmu disana juga baik atau bahkan lebih baik dari keadaanku karena memang itu yang aku harapkan setiap saat sesuai doaku yang selalu kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa agar Dia senantiasa memberimu kesehatan dan kebahagiaan. Sampai aku bisa membahagiakanmu suatu saat nanti.

Ah, sebenarnya aku tahu, doa yang aku panjatkan untukmu masih terlalu pendek dibandingkan dengan doa-doamu yang engkau panjatkan pada Yang Maha Kuasa untukku. Aku tahu, didalam doa panjangmu hanya namaku--anakmu-- yang selalu engkau sebut. Namaku selalu mengalir dalam setiap tetes air matamu yang jatuh dihadapan Yang Maha Kuasa. Aku tahu itu bu. Meski aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu sebelum aku memutuskan menulis surat ini.

Aku tahu bu, saat aku menyebut namamu satu kali dalam setiap doaku engkau telah menyebut namaku 10 kali dalam doa panjangmu. Dan saat aku menyebut namamu 10 kali dalam doaku, engkau telah menyebut namaku 100 kali dalam doa-doamu. Begitulah seterusnya. Seberapa banyakpun aku mendoakanmu tapi selalu kalah oleh banyaknya doa yang engkau panjatkan untukku. Engkau menyebut namaku dalam kerendahan hati dan lirih kekhusyuan. Sementara aku, aku masih dengan kesombongan dan keangkuhan. Suatu saat nanti aku ingin lebih banyak belajar kepadamu tentang kerendahhatian dan ketulusan.

Entah kenapa, tiba-tiba saja aku ingin menuliskan surat ini untukmu. Mungkin jawabanku hanya satu. Kerinduan.

Ya, setelah kini aku jauh darimu. Setelah lama aku berpisah darimu. Rasanya, aku baru tahu arti kerinduan yang sesungguhnya.

Meski aku tahu, rasa rinduku masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan rindumu padaku--darah dagingmu. Seperti doa, saat aku rindu satu kali engkau telah memendam rindu ribuan kali padaku. Hanya aku saja yang terlalu bodoh untuk tidak merasakan kerinduan yang engkau rasakan. Aku terlalu asyik dengan dunia dan lingkunganku hingga aku lupa bahwa di belahan dunia sana ada yang sedang menanti kabar dariku, ada yang sedang khawatir menantikan kabar dari seorang anak yang sudah beberapa hari tak kunjung memberi kabar. Maafkan aku ibu, yang membiarkanmu larut dalam kekhawatiran.

Sebenarnya, engkau bisa saja menanyakan kabarku terlebih dahulu memalui pesan singkat atau melalui telpon. Tapi, aku tahu engkau pasti tidak ingin mengganggu anakmu. Engkau pasti takut mengganggu anakmu. Dan setelah itu anakmu yang durhaka ini marah padamu karena engkau menggangguku. Aku tahu itu bu. Engkau pasti takut aku marah dan membiarkanmu beberapa hari tanpa memberi kabar seperti yang aku lakukan beberapa bulan yang lalu. Aku tahu bu, tapi aku baru menyadarinya hari ini saat aku memutuskan untuk menuliskan surat ini.

Hari ini, rasanya aku rindu padamu. Sekali lagi aku tahu pasti rindumu telah tumbuh dari kemarin-kemarin saat telepon terkahir kita. Engkau pasti sudah merindukan kehadiranku. Seperti aku juga merindukan hadirmu.

Maafkan aku bu yang sedikit terlambat menyadari bahwa di belahan bumi yang lain ada seseorang yang istimewa yang sedang mondar-mandir sesekali melihat handphone hanya untuk melihat adakah kabar dariku--anakmu.

Sementara disini aku sedang tertawa dengan teman-teman baruku. Menikmati suasana baru yang jauh dari rumah. Menikmati lingkungan baruku. Tapi disana engkau sedang khawatir karena sudah beberapa hari tidak menerima kabar dariku. Hingga tidurmu tidak nyenyak. Makanmu tidak enak. Hanya karena belum mendapatkan kabar dari anakmu yang durhaka ini.

Maafkan aku bu yang telah membuatmu khawatir disana...

Minggu, 01 November 2015

Tak Ada Gunanya Meratapi Kesedihan

Entah ini sudah hari keberapa dari sejak aku mendengar kata PUTUS darimu. Yang aku tahu, hari-hariku menjadi lebih sepi, tak ada semangat untukku menjalani hari.

Untuk hari ini pun entah sudah berapa kali aku mengetik kata "selamat pagi", "jangan lupa makan". Namun, kata-kata itu hanya berakhir di draft saja tak pernah benar-benar aku kirimkan padamu. Entah sudah berapa kali juga aku membuka kontak namamu di hapeku yang masih tersimpan spesial namun aku tak mampu untuk menelponmu. Sebenarnya, aku ingin sekedar menanyakan kabarmu disana. Tapi, kenyataan bahwa kita tak lagi memiliki ingatan selalu saja menghentikan keinginan itu.

Kalau kamu berpikir aku terlalu lemah mungkin memang ada benarnya. Karena kenyataannya begitu. Aku belum siap untuk kehilanganmu. Perhatian-perhatianmu selalu aku rindukan.

Tapi, aku menyadari bahwa penyesalan itu tak ada lagi gunanya. Membiarkanku larut dalam kesedihan hanya akan menutup jalan orang lain yang telah menunggu untuk memasuki hatiku. Mengisi hari-hariku setelah kepergianmu.

Meratapi kepergian seseorang yang tak mencintaimu hanya akan membuatmu sakit. Akan lebih baik jika setelah kepergianya, kamu memperbaiki diri dan memantaskan diri. Agar kelak orang yang meninggalkanmu menyesal.

Kata-kata itu menguatkanku. Ya, aku akan berusaha bangkit. Aku akan menunjukan padamu bahwa hidup ini akan tetap indah meski tanpamu. Dan jangan pernah kembali padaku suatu saat nanti. Karena esok hari tidak akan kamu temukan sosokku yang dulu kamu kenal.

Esok hari aku telah berubah. Penyesalanmu dan kehadiranmu mungkin sudah tidak ada gunanya lagi. Karena aku sudah bangkit dari keterpurukan yang kamu ciptakan.

***

Menyikapi Kekurangan

Aku tidak tahu siapa yang akan menjadi pendamping hidupku esok. Karena memang itu rahasia langit yang sulit bagi kita untuk membuka tirainya. Tapi, satu hal yang aku tahu bahwa hari ini ada dirimu yang setia disampingku. Tugasku adalah membahagiakanmu yang telah memilihku menjadi pengisi hari-harimu dan juga hatimu.

Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan kita. Kita bukanlah manusia yang sempurna karena yang sempurna bukan manusia. Jangan pernah mempermasalahkan kekurangan yang kita miliki!

Aku akan menerima kekuranganmu seperti kamu menerima kekuranganku. Itu adalah cara yang sempurna untuk menyikapi kekurangan. Karena memang aku memiliki sebuah prinsip dalam menyikapi kekurangan:

Bisa saja orang yang kamu anggap sempurna ternyata lebih banyak memiliki kekurangan dibanding dengan seseorang yang kini ada disampingmu.

Itulah prinsip yang aku pegang. Memang, sesekali aku suka merasa iri dengan hubungan orang lain yang terlihat sempurna. Tapi, aku selalu berusaha membunuh semua perasaan itu dengan mengatakan bahwa Bisa saja mereka memiliki banyak kekurangan, namun mereka bisa menutupinya dengan cara yang indah.

Maka, saat aku menatap wajahmu untuk kesekian kalinya, aku hanya berharap kamu pun akan mau berusaha bersamaku menjadikan hubungan yang kita jalani menjadi sempurna diatas kekurangan masing-masing.

***